Oleh : M Rafi Ariansyah
Aksi Damai pada 13 Mei 2026 dengan mengangkat tema "GERUDUK KELENTENG" adalah bentuk simbol perlawanan masyarakat Koto XI Tarusan atas ketidakpatuhan Investor terhadap nilai adat dan budaya Minangkabau diwilayah hukum Kabupaten Pesisir Selatan. Selain tidak taat hukum dan norma adat, sikap dari investor juga tidak kooperatif atas desakan dari masyarakat untuk segera melakukan renovasi terkait bangunan rumah ibadah kelenteng yang tidak memiliki izin ini.
Ketua Umum PPNI Sumbar, Rafi menyebutkan "...Investor tidak punya telinga, investor melanggar hukum adat, investor juga tidak memiliki izin terkait bangunan rumah ibadah kelenteng ini. Ini adalah penghinaan bagi harga diri dan adat kami. Kita tidak bisa diam, kita harus lawan, hukum perizinan tidak berlaku lagi didaerah kami. Bupati kami tuli, Wakil Bupati kami diam tak bersuara, Legislatif kami di DPRD tidak bersikap tegas". Ini adalah bentuk kejahatan ekstraordinary crime/kejahatan luar biasa dan penghinaan terhadap marwah harga diri kami".
Selanjutnya, Riski sebagai Aktivis Lingkungan menjelaskan "...Kita bersama masyarakat dengan tegas akan menyelesaikan masalah ini dengan tuntas sampai bangunan kelenteng ini tidak lagi terlihat oleh mata kita, harga diri kami diinjak-injak oleh orang yang tidak berakhlak". Pemerintah Daerah kami seperti orang bodoh dan tak bersikap, wakil rakyat kami di Legislatif juga tidak bertanggungjawab. Pemimpin kami kalah dan daerah ini tidak lagi bertuan, hukum didaerah kami dipermainkan oleh segelintir orang yang memiliki kepentingan. Untuk pengembangan wisata kami tidak sedikitpun menolak, namun jangan pernah coba-coba rusak harga diri kami".
PPNI Sumbar siapkan Boat Wisata sebagai armada untuk gerakan bersama masyarakat dalam melaksanakan aksi demonstrasi Geruduk Kelenteng. Fahmi, Kepala Bidang Politik Hukum dan HAM PPNI Sumbar menerangkan "..Tema Istimewa untuk aksi pada Hari Rabu 13 Mei 2026 kita siapkan khusus untuk Investor, tema ini adalah simbol perlawanan dari masyarakat yaitu *GERUDUK KELENTENG*. Kami tidak akan pernah membiarkan harga diri kami di Tarusan ini dilecehkan oleh orang asing, kami akan berjuang hingga tuntas dan memastikan bangunan rumah ibadah kelenteng ini hilang dari Kec. Koto XI Tarusan".

0 Komentar