Oleh : M Rafi Ariansyah
Kegiatan demonstrasi yang pada akhirnya berujung audiensi dengan Pemda Kab. Pesisir Selatan yang telah dilaksanakan pada hari Senin, 27 April 2026. Dengan demikian, telah disepakati 4 point mendasar atas polemik bangunan rumah ibadah Kelenteng ini.
Adapun 4 point penting itu antara lain, sebagai berikut :
1. Melakukan renovasi terkait pembangunan rumah ibadah Kelenteng menjadi bangunan kantor sesuai dengan status izin yang sudah dikeluarkan
2. Pemda sepakat melakukan Publikasi terkait Surat Izin Resmi
Usaha dan Rekreasi.
yang sudah dikeluarkan
tersebut
3. Pemda sepakat memberikan data Investasi Tahun 2021-2026 baik berapa jumlah investasinya maupun jenis dan bentuk investasinya
4. Tunjukkan Data 7 sertifikat (SHM) kepemilikan tanah di Pulau
Pengamat Politik Muda M Rafi Ariansyah S.AP M.AP menyampaikan kepada media bahwa "...Ini realisasi tuntutan aksi ini serius dan kita di PPNI bersama masyarakat tidak pernah main-main soal ini, saya benar-benar komitmen tentang ini bahkan saya rela menambah waktu untuk berada dikampung halaman 4 Minggu kedepan sampai akhir bulan Mei dan mengerjakan semua pekerjaan ini dari rumah. Jadi, kalau Pemda ini main-main dan tidak merealisasikannya, kita naikkan intensitas dinamikanya".
Lebih lanjut, Rafi menerangkan bahwa "...Mengelola negara ini tidak serta merta seenaknya saja, pemimpin yang tidak bijak pasti akan membuat kapal menjadi oleng. Jadi, ini adalah sebuah teguran untuk Pemda, KAN, agar lebih berhati-hati kembali kedepannya untuk setiap pengambilan keputusan yang akan diambil. Keputusan itu harus berdasarkan landasan, perencanaan yang matang, tidak boleh menabrak regulasi, dan mengakal-akali semuanya menjadi mudah dan cepat tanpa mempertimbangkan aturan yang ada".
Untuk itu, jikalau realisasi ini belum dituntaskan dan dikerjakan artinya Pemda takut dan kalah dari investor. Kita lihat sejauh mana keberanian Pemda dalam mengatasi persoalan ini. Kedepannya ini menjadi catatan penting untuk seluruh masyarakat Koto XI Tarusan seluruh masyarakat Kab. Pesisir Selatan bahwa mereka telah salah dalam memilih pemimpin.

0 Komentar